Pro-Kontra "Tren Wajib Cantumkan Akun Medsos saat Melamar Kerja", Netizen: Mau Kerja atau Mau Jadi Seleb?
Purwokerto — Jagat media sosial, khususnya platform X (Twitter) dan LinkedIn, kembali dihebohkan oleh perdebatan panas antar-netizen. Pemicunya adalah sebuah unggahan viral dari seorang pencari kerja yang mengeluhkan kebijakan beberapa perusahaan yang mewajibkan pelamar untuk mencantumkan tautan akun media sosial pribadi mereka, mulai dari Instagram, TikTok, hingga X.
![]() |
| Pro-Kontra Opini Netizen Cantumkan Medsos Di Loker |
Bagi sebagian besar netizen, kebijakan ini dinilai sudah kelewat batas dan melanggar privasi. Namun, di sisi lain, para praktisi HR (Human Resources) menilai langkah ini krusial untuk melihat attitude asli sang calon karyawan.
Kubu Kontra: "Privasi Kami Bukan Properti Perusahaan"
Mayoritas netizen menyuarakan keberatan mereka. Banyak yang merasa bahwa kehidupan digital pribadi tidak ada hubungannya dengan kapasitas profesional seseorang dalam bekerja.
"Gaji UMR, tapi syaratnya kayak mau rekrut Brand Ambassador. Kalau media sosial saya isinya cuma meme receh dan keluhan random, apa langsung dianggap gak kompeten?" tulis salah satu netizen dalam tweet yang telah disukai lebih dari 40 ribu pengguna.
Netizen juga mengkhawatirkan adanya bias subjektif dari tim perekrut. Mereka takut penilaian tidak lagi objektif berdasarkan skill, melainkan berdasarkan estetika feed atau jumlah pengikut (followers).
Kubu Pro (Praktisi HR): Digital Footprint adalah Cerminan Karakter
Di sudut lain lini masa, para praktisi HR dan pemilik bisnis memberikan sudut pandang yang berbeda. Menurut mereka, rekam jejak digital (digital footprint) sangat efektif untuk menyaring kandidat yang berpotensi membawa dampak buruk bagi reputasi perusahaan.
Penyaringan Attitude: HR ingin memastikan pelamar tidak pernah terlibat dalam aksi cyberbullying, ujaran kebencian, atau penyebaran hoaks.
Kecocokan Budaya (Culture Fit): Cara seseorang berkomunikasi di media sosial dinilai bisa menggambarkan apakah mereka cocok dengan kultur kerja perusahaan atau tidak.
Suara Netizen: Solusinya Bikin "Akun Kedua"
Menghadapi fenomena ini, netizen Indonesia yang terkenal cerdik langsung membagikan berbagai tips dan trik penolakan secara halus, salah satunya adalah tren membuat second account (akun kedua).
Akun Formal vs Akun Asli: Netizen menyarankan untuk membuat akun khusus yang terlihat rapi, estetik, dan "bisa dipamerkan ke HR", sementara akun asli yang digunakan untuk bersosialisasi sehari-hari dikunci rapat-rapat (private account).
Komentar Menohok: @rakyat_kantoran: "Sekarang kalau lamar kerja harus punya dua kepribadian. Satu kepribadian LinkedIn yang super profesional, satu lagi akun asli buat nangis di X."
Kesimpulan
Perdebatan ini menunjukkan adanya celah besar antara ekspektasi perusahaan dan batasan privasi yang diinginkan oleh generasi pekerja saat ini. Tren ini tampaknya akan terus menjadi bola liar di media sosial selama belum ada batasan regulasi yang jelas mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dinilai dalam proses perekrutan kerja.
